Senin, 06 Desember 2010

WIKILEAKS : AMERIKA, TRANSPARANSI, DAN KRISIS KEPERCAYAAN


Adalah Julian Assange, seorang pria berkewarganegaraan Australia yang disebut-sebut sebagai pendiri situs whistleblower Wikileaks yang beberapa hari ini menggemparkan dunia. Wikileaks memadukan seni jurnalisme investigasi dengan operasi intelejen, tentu memanfaatkan kemajuan IT.

Saya melihat Wikileaks sebagai bentuk perlawanan baru terhadap konspirasi-konspirasi dunia yang distigmakan kepada Amerika juga segala hipokrasi yang ditutupi negara dari rakyatnya. Bukan tidak mungkin gerakan Wikileaks dengan metamorfosisnya akan mampu menggoyahkan tata dunia yang tiran. Setidaknya pola Wikileaks lebih maju ketimbang langkah perlawanan konvensional yang menghancurkan diri sendiri, seperti yang dilakukakan segelintir bomber.

Wikileaks menjadi mesin transparansi dunia yang memaksa. Sebuah upaya jurnalisme kebenaran yang radikal. Sebuah aib terkadang juga merupakan kebenaran bagi orang lain. Dan aib mengusik penasaran orang lain untuk membukanya. Tentu dalam pandangan yang lebih maju kemasan pengungkapannya lebih berbobot, tidak lagi dibingkai oleh mental sempit berorientasi duit.

Misi-misi terselubung selalu ada dalam wilayah global. Citra positif di permukaan tidak selalu berjalan seiring dengan ide yang menjadi energi utama penggeraknya. Rilis Wikileaks terutama yang berkaitan dengan dokumen diplomatik Indonesia-Amerika, secara terang mengungkapkan bahwa apa yang menjadi prasangka sebagian kita memang ada, tinggal kemampuan kita untuk membuktikannya. Kemudian yang kedua keberanian. Inilah dunia, kemunafikan ada di dalamnya.

Sabtu, 04 Desember 2010

NATURALISASI : SOLUSI ATAUKAH IRONI


Euforia sontak membahana setelah kemarin sore, Sabtu 4 Desember 2010, Tim Nasional Sepakbola Indonesia mengalahkan Tim Nasional Laos dengan skor telak 6-0 pada pergelaran AFF 2010 di SUGBK (Stadion Utama Gelora Bung Karno) Senayan Jakarta. Pada partai sebelumnya, Indonesia juga sukses mengalahkan Tim Malaysia juga dengan skor besar 5-1. Dari hasil itu Firman Utina dkk, sudah mengemas poin 6 sekaligus mengunci tempat di semifinal.

Selamat buat Timnas. Semoga ini pertanda kebangkitan prestasi sepakbola Indonesia, khususnya di kancah regional Asia Tenggara.

Hal yang menarik dari moment kali ini adalah hadirnya Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim dalam jajaran Timnas. Mereka adalah pemain naturalisasi pertama yang memperkuat Indonesia, dan hasilnya mampu meyakinkan publik persepakbolaan kita.

Pertanyaannya : Apakah langkah naturalisasi solusi yang bijak ? mengingat Indonesia yang sebesar ini. Ataukah negara ini tidak mampu memberi akses warganya untuk mengembangkan diri. Dengan asumsi kasar, betulkah dari 200-an juta penduduknya tidak ada setidaknya 11 orang yang memiliki potensi apik di bidang sepakbola. Itu yang pertama, yang kedua dari moment ini kita tidak bisa lepas dari nama PSSI dengan ketua Nurdin Halid. Ironi sekali, protes dan tuntutan untuk mengundurkan diri yang ditujukan kepadanya bak angin lalu. Menurut saya sebuah kewajaran tuntutan itu mengingat PSSI di bawah kepemimpinannya terkesan carut marut, apalagi secara pribadi NH juga sempat berurusan dengan institusi pengadilan. Inikah cerminan sikap mental kita bangsa Indonesia yang tidak bisa menghargai kemampuan orang lain dan tidak pernah memberi kesempatan kepada yang lain. Menganggap wajar sikap-sikap melanggengkan kekuasaan, selagi ada kesempatan, selagi bisa. Spanduk yang terpampang sebagai upaya pencitraan menurut saya sebuah kekonyolan bahkan ketololan dan kalimat "Nurdin, Sekali Layar Terkembang, Surut Kita Berpantang" adalah penghinaan terhadap kedaulatan masyarakat Sepakbola Indonesia.