Selasa, 06 September 2016

ANAS DAN MASA DEPAN SEJARAH

Jum'at keramat sampai pula ke dalam kehidupan Anas Urbaningrum, istilah yang akhir-akhir ini menjadi momok dalam drama pemberantasan korupsi di Indonesia. Jum'at, 10 Januari 2014, KPK resmi menahan Anas sebagai tersangka pada kasus Hambalang setelah sebelumnya mangkir dari panggilan pertama. Rentetan peristiwa yang mengawali proses penahanan ini bakal mewarnai lembaran sejarah Indonesia yang syarat konflik dan intrik dan terkadang berujung pada kegelapan misteri, seperti yang terjadi pada era 1965 di mana terjadi transisi Orde Lama ke Orde Baru yang hingga sekarang belum terbuka secara benderang. Adalah bermula dari prahara di tubuh Partai Demokrat, satu persatu kadernya terjerat pasal tindak pidana korupsi. Mungkin tepat julukan the destroyer dan kotak pandora disematkan kepada Muhammad Nazarudin, mantan bendahara umum partai berlambang mercy itu adalah yang pertama kali ditangkap. Pelarian yang fantsatis dan penangkapan yang dramatis menggambarkan bagaimana Nazarudin ditangkap di Cartagena ibukota Kolombia melalui kerjasama antara POLRI dan Interpol. Kicauan Nazarudin perlahan tapi pasti menyeret koleganya di PD antara lain Angelina Sondakh, Andi Malarangeng, hingga Anas Urbaningrum. Prahara PD menarik disimak karena terjadi menjelang Pemilu 2014, sebagai partai berkuasa menjadi sesuatu yang wajar, di kancah politik yang cenderung melahirkan rivalitas bebas dan profan, banyak kompetitornya menginginkan partai ini turun tahta. Sebagai partai yang terbilang muda karena lahir di era Reformasi dan tak perlu waktu lama untuk menggapai puncak kekuasaan, sudah cukup bagi PD untuk membius dan menarik banyak orang bergabung menjadi kadernya. Alih-alih melahirkan kader militan, proses rekruitmen yang instan membuat PD dihinggapi kader oportunis dan materialis.Kesuksesan PD juga tak bisa lepas dari efek Susilo Bambang Yudhoyono yang bersinar bak bintang pada periode 2004. Atmosfer SBY berkata lain menjelang 2014 ini, beredar kabar bahwa konfrensi PD di Sentul yang menghasilkan Anas tidak direstui sang bidan PD, SBY. Seperti tidak terima melihat partai yang dibesarkannya kian karam, SBY mengambil "paksa" tongkat komando dari tangan Anas melalui KLB (Konferensi Luar Biasa) di Bali. PD semakin rapuh menghadapi kontestasi 2014 antara ketidakmatangan berorganisasi dan pembusukan partai.